Tampilkan postingan dengan label semacam puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semacam puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juni 2012

Hening Hati

Dalam ranah yang baru saja kuselami
tak jarang terbersit tanya "inikah tempatku?"

Disetiap denting waktu,
Dihadapanmu aku hanya tersenyum,
karena itu saja yang aku bisa.
tapi aku tahu kau akan selalu membalas.

Dalam diamku..
kau tau pasti aku tak pandai berucap.
Hanya ada serakan kata yang tak jua temukan cahaya.
Tapi akupun tahu kau faham sorot mataku.

menjadi milikmu sesuatu yang tak pernah ku pinta dalam doaku,
aku yakin tak berbeda denganmu.
Terasa sudah, jalan ini tak selamanya indah.
dalam beberapa langkah, jalan berbatu telah menanti.
Tapi aku tau kau tak ingin lepaskan genggamanmu.

Untuk setiap tawa yang berderai,
mengingatmu tak selalu menyenangkan.
Saat aku tau dalam tidurku aku tak sendiri.
Ku tanyakan pada hujan kapan ia akan beranjak.
tapi aku tau, seiring senja namamu segera terangkai di layar ponselku.

Dan saat senja telah pulang,
Untuk segalanya tak ada yang lain kecuali maaf.
karena ku tau terkadang aku tak sesuai dengan inginmu.
tapi mungkin kau tak tahu.... aku selalu rindu caramu merindukanku.

P.S : I Love You

Kamis, 24 November 2011

Episode #15


Jalan ini lenggang
Kita mulai berjalan beriringan

Tak ada genggaman tangan
Hanya senyum dan tawa yang berderai

Di sisi kananmu
mendung memilih jauh

Seirama goresan penamu, kaw rangkai episode baru di bukuku
Di lembar yang tak kalah baru

Di sisi kirimu
Segelas kopi masih pahit dilidah
Tak peduli berapa sendok gula kaw larutkan

Kaw...

Tak hanya mengisi lembar lembar bersih itu
Sesekali kaw tengok laman laman hitam

Menyeret mendung kembali pulang

#

Jalan masih lenggang
Tetap hanya ada kita

Tak lama kaw tarik diriku ke bangku usang
Masih dengan senyum dan tawa

Dalam senyap sejenak
Kaw mulai beranjak

Mengajak ku kembali meniti

#

Trung..Trung..Trung...
Kelereng kelereng berjatuhan mencipta ritme

Senyumku mulai simpul
Tawa mu melemah

Di persimpangan,
Kuhentikan langkahmu,
Untuk ku bubuhkan tanda tanya,
Pada naskah yang belum kaw pungkaskan.

#

Dering ponsel menyalak halus
Mengurai namamu pada layarku

Dalam hening kubaca pesanmu
Memelukku hingga sesak

Sekilas aku ingat bukuku
Yang kaw beri tanda jeda setelah baris terakhir

Tak ada yang lain
Tak ada...

Hanya masih
Masih...

Kaw paksa diriku
Membuka laman demi laman dengan caramu
Dan mengisi lembar lembar baru
Masih dengan caramu

Tapi Aku...

Masih...
Dan juga masih...

Bertahan dengan caraku

#

Kaw sadar?
Jalan kita mulai berat

Di suatu sore saat senja turun
Kubaca pesanmu kembali
Untuk ku hapus kemudian..

#

Pada sebuah helaan nafas
Terhempas sebuah tanya klasik

“would you let me be my self?”

 US.. does not mean ‘US’

Selasa, 08 November 2011

Surat...Dari Saat Ini... Untuk Esok


Setetes embun dari rintik sisa senja
Mengalir pelan lewat kopi yang kusajikan sendiri

Lirih terhirup
Dan lembut tercecap
Sebagaimana seyogyanya sebuah kisah kumaknai

Tak salah
Hanya lembaran kosong yang mulai sarat goresan
Dan mungkin lusuh kemudian

Lusuh karena tetap kusimpan
Rusak berserakan
Dan kumal oleh waktu

Sejenak.. derai tawa sederhana mengiringi sebuah tegukan

Tak perlu sesal
Suatu ketika kan ku tunjukkan

Pada mereka yang mulai tumbuh dewasa
Pada ia yang selalu berucap 'selamat pagi'
yang tak alpa mengecup keningku seiring sentuhan fajar

Lebih???
Tidak..

Sungguh..

Hanya secuil impian sederhana
yang baiknya kusimpan sendiri

Dari ku
Untuk (calon) mereka
Untuk (calon) ia
Dan untuk kopi yang telah kutandaskan bersama malam

Penat


Semuanya...

Terasa Lebih Baik

Saat Hujan Turun

DI keheningan

Malam ini.............



*Ya Allah.... maafkan aku.

Senin, 03 Oktober 2011

Sisi Cerahmu


Pada satu sisi
Sinar pagi menembus lubang lubang kecil di dinding rumahmu..
Mencipta sorotan sorotan eksotis, mengukir bayangan semu.
Seekor kupu kupu biru menyelinap cantik lewat ventilase ruangmu
Menyuguhkan kedamaian layaknya etalase toko bunga pegunungan

Ku lihat wajah teduhmu
Menyiratkan kekuatan sekaligus ketakutan
Mata itu masih terpejam... Walau mungkin sesungguhnya terjaga

Ah.. sinar itu mulai bergerak pelan menyinari wajahmu..
Semakin menguatkan bahwa kaw pantas untuk dicintai...

Sekumpul memori berkelebat cepat di depan mataku..
Menyuguhkan cerita cerita masa lalu mu..
Dalam diam mu, kau bicara
Mengurai semua itu padaku...

Satu yang kukagumi darimu..
Senyummu akan selalu nampak setiap pagi..
Ah... tidak hanya pagi... kapanpun..kaw selalu tersenyum

Senyum termanis yang bisa kau berikan...walau mungkin siang dan malam akan pahit..
Ya... aku suka senyummu

Dan sekarang... sedikit lirih ku bicara padamu...
“bangunlah.... ada lagu untukmu pagi ini... kau pasti suka” :))

Minggu, 25 September 2011

Cerita Kertas


Kertas ini masih putih dahulu
Setiap noda terhapus dengan mudah

Segalanya indah walau sesungguhnya pahit
Dan senyum terus terkembang setiap harinya 
Walau aku belum tahu bagaimana caranya tersenyum

segalanya berlari...
Senja... di tempat itu... 

Kertasku tak lagi putih
Warna warni noda terserak diatasnya, terlalu bengal untuk memudar

Segalanya rumit
Segalanya berliku
Segalanya kejutan

Mungkin segalanya (masih) pahit, kawan
Tapi aku telah tahu betul bagaimana sebuah senyuman harus ku ukir..

karena hidup... harus tetap terasa indah.... 

Jumat, 29 Juli 2011

Menyisakan Jejak

Hai... Kubuka tirai ruangmu perlahan dan terdiam kemudian.

Selangkah kucoba susuri sebaris jalan, ada hawa yang berbeda.


Jujur kukatakan padamu denting jarum itu menggangguku !!

Memaksaku mengingat akan masa


Tak lama kulihat seonggok kertas dengan pena disisnya.

Aku yakin itu milikmu.... semua orang tahu itu.


Ku raih penamu dan mulai meracau di kertasmu juga.

Tak peduli apapun... tentang apapun.


Sebaris ruang tersisa di pangkal kertas,

dan kuhentikan penamu untuk kaw lanjutkan esok hari tanpaku.

Senin, 18 Juli 2011

Mereka....Disana

Semesta semakin gelap
Terlalu gelap bagi hidupnya yang telah suram

Harapannya terlanjur pupus
Seiring nafas yang semakin sesak

Tak ada lilin.. apalagi lentera

gelap, kawan! benar benar gelap..

Tak disadari,
seluruh tubuhnya telah pasrah pada bumi

Ia ingin sekali beranjak,
sayang... gravitasi terlalu kuat baginya

Tubuh itu tak berdaya
Ia lemah... dan semakin lemah

Huffffff....

Kalian tahu??
Ia telah mati, kawan.... mati...
masih dengan surat dalam genggaman...untuk anaknya



Jumat, 24 Juni 2011

Dari Ujung Kapal Feri

Aku berdiri di sana...

di sudut yang paling aku suka

kaw tahu, cahaya itu indah sekali kawan...

Memantulkan sinarnya pada laut yang tenang..

mengingatkan ku pada lukisan anak manusia di bangku sekolah dasar...

huff...Angin itu polos sekali...

Memelukku erat seolah tak maw aq pergi...

Sayup sayup telinga ku menangkap riuh rendah nyanyian di dalam bangku kapal..

Satu hal yang membuatku rindu saat ini....

Mungkin memang perjalanan kita tak sempurna,,,

tapi cukup untuk menorehkan seulas senyum dibibirku..

Atau mungkin sesungguhnya kita tak sejalan...

tetapi nyanyian dan gitar itu cukup untuk menyatukan tangan kita walau mungkin sesaat...

Dan kaw tahu kawan...

aku rindu gelak tawa kalian...

gelak tawa kebodohan...

kebodohan yang kita akui tanpa benci...

kebodohan yang membuat kita tertawa seirama...

ah...iya...hampir aku melupakan satu hal...

Mungkin tak penting untukmu, tapi sebuah senyum untukku..

Kaw ingat.. aku berusaha menuliskan namanya d pasir pantai itu,..

tapi sang ombak lebih cepat datang untuk menghapusnya sebelum selesai ku torehkan...

kaw fikir aku benci pada ombak itu??

kaw salah... aku lebih ingin menjabat tangannya..

Berterimakasih padanya...

Dering Itu

Kuhirup sisa hujan sesaat sore ini

memandang bangku kosong di ujung sana

Hiruk pikuk suara manusia ku abaikan

lelah untuk menyimak


Derap langkah kaki mengalun seirama

semakin cepat lalu dekat

Mataku tak henti mengawas

memastikan siapa yang datang kemudian


Waktu berlari...cepat

tapi derap itu melambat...mulai berhenti


Kusaksikan lorong sunyi di keramaian

mengusikku untuk bersua


aku berdiri

memejamkan mata sesaat

dan mulai menyusuri koridor kehampaan


Sehelai nafas mengiringi deringan ponsel di saku kanan

Memaksaku menyiratkan senyum terhebat

Tak lama kulihat namamu di layar

memelukku dalam dinginnya beban

Persahabatan dan Ruang Hampa

Ah..memang sungguh sederhana..


Sadarlah.. Ia tak butuh konsep yang terlalu matang

Bahkan , tanpa konsep sekalipun ia akan tetap ada..


Ia juga tak begitu mementingkan daftar waktu di atas kertas..

Karena ia lebih suka mengalir


Ia hanya minta secercah kerinduan

Tak lebih..


Berikan saja sedikit waktumu

Ia sudah senang..


ingat kawan..

persahabatan tak lahir di ruang hampa..


sederhana namun menyenangkan..

sekejap namun terpatri..


Itu cukup.. :)

Lilin Lentera

Berjalan kita tertatih..

tanpa kait..

Tak kaw sadari, aq menatapmu sembab di keheningan sore...

tanpa kata,,

Lambat laun, malam merayap gelap..

tanpa lentera..

Sempat kaw jentikkan sebuah lilin..

sayang hanya setengah,,,

diam santun menyapa sedari tadi..

tanpa geming..

kaw tahu..

aku pun tahu..

Sang lilin tak ingin pemantik..

Ia memilih 'mati'..

Menyisakan kaw dan aku

tanpa kita........

Veinte

Ku rasakan keringnya bibirku saat ku ucap wahyuMu ayat demi ayat....

Tak ku sadari air mata ini menitik butir demi butir saat ku bersimpuh pada Mu..

Cicit burung fajar ingatkan diriku bahwasanya telah Engkau beri kesempatan roh dan jasad ku menyatu sehari lagi...

Namun...indahnya senja sadarkan ku sesungguhnya jiwa ini tanpa dinyana telah lalui separuh hari...

Aku termenung

Akankah ku masih bisa nikmati hangatnya matari esok hari??

Hanya DIa yang mengetahui..

Diri ini hanya mampu menyimpannya dalam jiwa sebagai misteri yang akan tetap menjadi misteri sampai ajal menghampiri..

Tapi ku ucapkan syukur padaMu untuk setiap detik dalam hidupku..

Syukur telah beri ku kesempatan merasakan getirnya hidup..

Syukur telah anugerahkan keluarga yang begitu indah,.

Syukur telah beri ku sahabat yang sangat berharga...

dan

Syukur telah beri ku keimanan untuk terus mengenal agamaMu...

Teman

Mereka begitu jauh

Tetapi ku rasakan mereka sangat dekat dengan jiwaku

Mereka tak sempurna

Tetapi mereka telah sempurnakan hidupku

Mereka terkadang hilang

Tetapi mereka akan selalu ada saat hati ini lelah

Mereka tak tertebak

Tetapi itulah mereka

DAN

Mereka terkadang egois

Tetapi mereka selalu raih tanganku saat ku tersungkur.